Home Daerah 12 Hari Jalani Isolasi, Warga Siliwangi tak Mendapat Perhatian dari Pemerintahan Pekon

12 Hari Jalani Isolasi, Warga Siliwangi tak Mendapat Perhatian dari Pemerintahan Pekon

75 views
0
Kokom Komalasari (kenakan kaos merah) dan Rohayari (60) tahun, saat menceritakan dirinya saat menjalani isolasi selama 12 hari di bangunan Pamsimas yang letaknya berada di samping halaman rumahnya

PRINGSEWU – Kokom Komalasari (41), janda beranak tiga (3) kelahiran Pekon Siliwangi, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu hanya bisa pasrah, setelah 12 hari menjalani isolasi dan pada Rabu (03/06/20) baru diperbolehkan bercampur dengan kedua orangtua dan anak bungsunya.

Sejak ditinggal mati suami tercinta pada 2015 lalu akibat penyakit komplikasi yang di deritanya, Kokom (sapaan akrabnya) memutuskan mengadu nasib dan bekerja sebagai asisten rumah tangga lepas di Ciledug, Kabupaten Tanggerang.

“Disana saya tinggal mengontrak mas. Uang dari hasil bekerja, saya gunakan untuk bayar kontrakan dan makan sehari-hari”, ucap Kokom, Sabtu (05/06/202) saat ditemui wartawan Lampungraya.id., di rumah orangtuantnya di Dusun VI RT 09, Pekon Siliwangi.

Menurut Kokom, saat tiba di Siliwangi pada malam takbir dengan menumpangi mobil truk, ia langsung di isolasi oleh kepala dusun (Kadus) setempat di ruangan bangunan Pamsimas, berukuran 5 x 5 meter.

“Turun dari mobil, saya tidak diperkenankan masuk kedalam rumah. Jadi, malam itu, saya langsung di isolasi”, jelas Kokom.

Lantaran di dalam bangunan Pamsimas tidak ada sejumlah fasilitas, Kokom malam itu oleh Rohayati (60) ibu kandungnya, diberi kasur lipat sebagai alas tidur.

“Tidur mengapar begitu saja mas, karena memang di dalam ruangan itu tidak ada apa-apa. Kalau pas ingin buang air kecil, paling juga keluar dan cari tempat yang agak sedikit gelap”, ungkap Kokom.

Inilah bangunan Pamsimas dimana Kokom Komalasari di isolasi selama 12 hari, mulai dari malam takbir (idul fitri 1441 hijriyah)

Menurut Kokom, selama 12 hari menjalani masa isolasi, kebutuhan makan dan minum didapat dari orangtuanya.

“Ibu kalau pagi antar makan dan minum, piringnya diletakan di depan pintu ruang bangunan Pamsimas. Setelah ibu kembali dan masuk ke rumah, piring berisi nasi baru saya ambil”, ucap Kokom.

Bahkan, lantaran di ruang bangunan Pamsimas tidak tersedia kamar mandi, toilet dan WC, Kokom pun terpaksa mandi di halaman rumah.

“Jadi, bapak membuat sekatan dari kain, didalamnya di kasih ember berisi air. Selama empat hari, saya mandi di halaman rumah mas. Baru di hari kelimanya, saya bisa mandi di rumah orangtua”, beber Kokom.

Rohayati, ibu kandung Kokom saat dikonfirmasi membenarkan, kalau Kokom selama menjalani masa isolasi, dirinya yang melayani makan dan minumnya.

“Kalau hati sebenanya nangis mas, tapi ya harus gimana lagi. Karena, kayak yang ngasih makan ke kucing saja”, ucap Rohayati.

Rohayati juga mengaku, selama menjaga dan melayani kebutuhan makan dan minum Kokom, belum pernah ada pegawai dari pekon yang sengaja datang dan berkunjung kerumahnya.

“Boro-boro di kasih bantuan mas, kepala pekon atau pak cariknya saja belum pernah datang kesini (rumah-red), untuk sekedar nengok atau tanya keadaan Kokom. Paling juga pak Kadus yang kesini”, ungkap Rohayati.

Saat Kokom selesai menjalani masa isolasi dan diperbolehkan bercampur dengan keluargannya, hanya Kadus VI saja yang datang.

“Jadi, pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB, pak Kadus datang dan memberitahu, kalau anak saya sudah selesai isolasinya. Dia diperbolehkan berkumpul sama keluarga dan anaknya yang bungsu”, terang Rohayati.

Abidin (70) bapak kandung Kokom juga membenarkan, kalau selama menjalani isolasi, anak keduanya.

“Gak ada mas, gak ada bantuan atau apa. Kalau makan, memang ibunya yang kasih”, ujar Abidin yang sehari-hari bekerja sebagai petani. (Ful)