Home Daerah Imbas Corvid 19, Melasti Bersama Umat Hindu Pringsewu dan Pesawaran Dibatalkan

Imbas Corvid 19, Melasti Bersama Umat Hindu Pringsewu dan Pesawaran Dibatalkan

100 views
0

PRINGSEWU – Pelaksanaan Melasti bersama umat hindu di Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran dipinggiran aliran Way Sekampung, Panggungrejo, areal Pura Melasti Tri Dharma Yoga Kabupaten Pringsewu yang sedianya diselenggarakan besok, urang dilaksanakan.

Hal itu menyusul adanya surat edaran dari Bupati Pringsewu dan juga PHDI pusat, sebagai bentuk mengantisipasi penyebaran coronavirus desease (Corvid 19)

“Jadi, besok hanya umat hindu yang tinggal di panggungrejo saja yang melaksanakan melasti di pura melasti tri dharma yoga. Itu pun kita batasi, hanya 15 sampai 20 orang saja”, jelas Misino, Ketua Parasindu Hindu Dharma (PHDI) Kabupaten Pringsewu, dikonfirmasi wartawan Lampungraya.id., Minggu (21/03/2020).

Sementara lanjut Misino, bagi umat hindu lainnya akan melaksanakan Melasti di pure masing-masing dengan jumlah yang juga dibatasi.

“Keputusan ini, sesuai dengan hasil rapat koordinasi. Kami juga sudah memberikan himbauan kepada umat hindu yang ada di Kabupaten Pringsewu”, ungkap Misino yang baru sekitar 1 bulan ini menjabat sebagai Ketua PHDI Kabupaten Pringsewu.

Di Kabupaten Pringsewu sebut Misino, terdapat 24 pure yang akan menjadi tempat umat hindu melaksanakan Melasti.

“Tujuan Melasti adalah membersihkan Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung. Dimana, Bhuwana Alit dimaksudkan sebagai pembersihan diri kita sendiri dan Bhuwana Agung pembersihan alam semesta”, papar Misino.

Misino mengemukakan, kalau umat hindu mempercayai, badan dibersihkan dengan air, jiwa dibersihkan dengan kitab suci.

Sebab, umat hindu juga mempercayai laut sebagai sumber air terbesar dan kotoran yang mengalir ke laut, tidak akan merubah kejernihan air yang ada.

“Oleh karena itu, Melasti akan selalu dilaksanakan di pantai, mengambil tirta ring telenging segara (air di tengah lautan) sebagai simbolisasi pembersihan Bhuwana Alit dan Bhuwana Agung. Karena di Pringsewu tidak ada laut, maka dilaksanakan dipinggiran sungai”, terang Misino.

Rangkaian dari prosesi Melasti yakni pecaruan (membersihkan segala kotoran dari alama niskale (tidak kelihatan)

Kemudian, pelaksanaan pelarungan yang diwujudkan dengan simbol hewan (bisa itik dan juga angsa) sebagai korban suci untuk membersihkan segala sebel kandel, selama di tahun sebelumnya.

Selanjutnya, pelaksanakan persembahyangan bersama yang tujuannya, memanjatkan harapan di tahun yang akan datang, akan lebih baik dibandingkan dengan tahun yang sudah.

Untuk diketahui, awal mula lokasi pinggir Sungai (Way) Sekampung dijadikan tempat Melasti yakni pada tahun 2013.

Saat itu, ada himbauan dari PHDI Provinsi Lampung untuk meniadakan kegiatan keagamaan, sebagai akibat dampak kericuhan di Bali nuraga, Lampung Selatan.

Pada umumnya, kegiatan Melasti dilaksanakan di laut atau pantai di tahun-tahun sebelumnya. Untuk umat Hindu di Kabupaten Pringsewu, mereka akan melaksanakan Melasti di Pantai Terbaya, Kota Agung atau di Pantai Selaki, Bandarlampung.

Sehubungan Pringsewu tidak memiliki laut, maka warga panggungrejo kemudian mencetuskan untuk melaksanakan kegiatan Melasti di pinggir Sungai (Way) Sekampung.

Di awal pelaksanaan Melasti tahun 2013, hanya ada dua (2) desa/pekon yang melaksanakan Melasti bersama di Pekon Panggungrejo, yakni umat Hindu di Panggungrejo dan Pandansari Selatan.

Kemudian, pelaksanaan Melasti di tahun selanjutnya, jumlahnya pun meningkat dan dikuti oleh umat hindu se Kecamatan Sukoharjo.

Pada tahun 2016 lokasi Melasti di Pekon Panggungrejo diresmikan oleh Bupati Pringsewu H.Sujadi menjadi pusat kegiatan Melasti umat hindu se Kabupaten Pringsewu dan juga Pesawaran. (Ful)