Home Daerah Pasutri di Sumberagung, Kembangkan Usaha Kopi Bubuk dengan Nama “Kopi Cantik” Bukit...

Pasutri di Sumberagung, Kembangkan Usaha Kopi Bubuk dengan Nama “Kopi Cantik” Bukit Barisan

242 views
0
Pasutri, Ngalimun dan Nur Aini, warga Pekon Sumberagung, Kecamatan Pagelaran yang merintis usaha kopi bubuk dengan nama “kopi cantik” bukit barisan.

AMBARAWA – Berawal dari desakan ekonomi dan uji coba, Nur Aini, istri dari Ngalimun, warga Dusun III RT 01, Pekon Sumberagung, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, kini mulai tekuni usaha kopi bubuk yang kemudian diberi nama “Kopi Cantik” Bukit Barisan.

Bahan mentah kopi di dapat dari kebun miliknya yang berlokasi di Dusun Talang Rendah, Pekon Selapan, Kecamatan Pardasuka.

Ditemui wartawan Lampungraya.id., dikediamannya, Kamis (27/02/2020), Nur Aini mengatakan, usaha pengolahan kopi bubuk dirintisnya sejak akhir tahun 2018.

“Kebetulan suami punya kebun kopi di selapan, ada sekitar 5 hektaran. Karna di rumah waktu itu ada stok kopi, terus coba saya sangrai, kemas kedalam pelastik dan jual eceran”, ucap Nur Aini.

Diluar dugaan Nur Aini, kopi bubuk buatannya mendapat tanggapan positif dari penggemar kopi di lingkungan sumberagung, karena rasanya yang enak.

“Hasil dari jualan kopi bubuk ini ternyata cukup lumayan. Dari situ, saya terus rutin sangrai kopi dan bikin kopi bubuk untuk di jual ke pelanggan hingga sekarang”, ungkap Nur Aini.

Ada dua kemasan “Kopi Cantik” Bukit Barisan buatan Nur Aini. Pertama, kemasan 100 gram (1 ons) dan kemasan 200 gram (2 ons). Kopi bubuk kemasan 100 gram dibandrol dengan harga Rp5 ribu, dan kemasan 200 gram, dengan harga jual sebesar Rp 10 ribu.

“Memang sengaja, harga jualnya saya buat ekonomis mas. Tapi, ada juga yang harganya 70 ribu, ini khusus untuk kopi super (murni tanpa campuran) dengan bobot isi 1 kilogram”, ucap Nur Aini.

Dengan peralatan seadanya seperti mesin giling berukuran kecil dan dua buah kuali, satu terbuat dari tanah dan satu lagi dari besi. Di setiap harinya, Nur Aini akan menyangrai kopi mentah 3 hingga 6 kg menggunakan tungku tanah.

“Proses nyangrai kopinya bisa sampai dua jam. Semua, saya lakukan sendiri mas”, ujar Nur Aini.

Sementara itu Ngalimun mengatakan, kebun kopi miliknya yang terletak di selapan, ia dikembangkan sejak belasan tahun yang lalu.

“Bibit tanaman kopinya, hasil nyetek tanaman kopi di lampung barat waktu itu. Saya coba kembangkan di selapan, ternyata kualitasnya cukup bagus”, ungkap Ngalimun.

Melihat kebun kopi milik Ngalimun yang nampak subur dan buahnya lebat, warga di selapan pun akhirnya tertarik dan ikut menanam kopi.

“Di samping berkebun, saya juga membuat pembibitan kopi dengan cara di stek. Banyak juga warga yang minta dan memesan dibuatkan bibit kopi dari yang saya kembangkan itu”, terang Ngalimun. (Ful)