Home Daerah Perjalanan Seorang Hipni, dari Kuli Panggul Sayuran hingga ke Panggung Pemilihan Bupati...

Perjalanan Seorang Hipni, dari Kuli Panggul Sayuran hingga ke Panggung Pemilihan Bupati (Bagian Kedua)

308 views
0

KALIANDA – Bakal calon Bupati Lampung Selatan periode 2020-2025 Hi.Hipni SE memiliki perjalanan hidup yang berliku. Setamat dari SMA Negeri 1 Kalianda pada 1991, Hipni melanjutkan studinya di program diploma di Universitas Lampung mengambil program studi koperasi dan melanjutkan kuliah S1 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satu Nusa Bandar Lampung hingga gelar sarjana ekonomi berhasil disandangnya.

Perjalanan menyelesaikan S1 jauh dari orang tua dan dilakukan secara mandiri dilaluinya dengan prihatin. Hipni muda bahkan pernah menjadi kuli panggul sayuran di Pasar Tugu demi melanjutkan cita-citanya.

Setelah sarjana berhasil diraihnya, dia pun memutuskan kerja sebagai TKI di Korea Selatan. Sepulangnya dari merantau dari Negeri Ginseng itu, Hipni merintis usaha, hingga maju sebagai calon kepala desa. Karier politiknya terus menanjak, pada 2009 Hipni maju sebagai calon legislatif dari PDIP.

“Awalnya saya sempat ragu, apakah sanggup menerima amanah dari masyarakat. Sebuah tanggung jawab besar yang menanti saya” tutur Hipni.

Keputusan pun dibuat, bulat Hipni maju sebagai calon legislatif (Caleg) dari PDIP.  Perjuangan pun membuahkan hasil, pada Pemilihan Legislatif 2009, Hipni menjadi salah satu dari 45 anggota DPRD Lampung Selatan yang terpilih dan duduk di lembaga legislatif untuk periode 2009-20014.

Dalam periode itu sebagai pengalaman pertama menjadi seorang legislator, Hipni didapuk menakhodai Komisi C (Sekarang Komisi III) Bidang Pembangunan.

Setahun duduk di DPRD, Kabupaten Lampung Selatan pada 2010 dipersiapkan menggelar hajat besar yakni pemilihan kepala daerah. Sebagai kader moncong putih, Hipni tentu mempunyai tekad bulat untuk memenangkan calon yang diusung partai yang menaunginya, besutan Megawati Soekarnoputri saat itu, yakni pasangan Rycko Menoza – Eki Setyanto (Ko-ki).

Pilkada digelar pada 30 Juni 2010, alhasil pasangan Rycko Menoza – Eki Setyanto yang diusung PDIP dan Demokrat meraih suara terbanyak dengan perolehan 166.089 suara, atau 35,85 persen. Pasangan petahana

Wendy-Antoni (diusung Partai Golkar) memperoleh 27,28 persen (126.427 suara), dan juru kunci, pasangan calon Zainudin Hasan-Ikang Fawzi hanya mendapatkan suara 118.098 suara atau 25,48 persen.

Dari pilkada itu, hubungan Hipni dan Rycko Menoza terjalin, baik secara pribadi mau pun di pemerintahan. Dikenal sebagai loyalis ketua DPD PDIP Lampung, Sjahroeddin ZP (Ayah Kandung Rycko Menoza) konsistensi Hipni tak terpatahkan.

Pada pilkada 2015, meski PDIP mengusung pasangan Zainuddin Hasan – Nanang Ermanto, Hipni kekeuh dengan keputusannya mendukung pasangan calon Rycko Menoza – Eki Setianto untuk kali keduanya. Konsekwensinya, Hipni ‘dibuang’ melalui pergantian antar waktu (PAW), tahun pertama setelah Hipni kembali terpilih untuk periode kedua.

“Saya ini orang desa, saya bisa besar seperti saat ini karena modal kesetiaan, tidak mungkin saya berkhianat kepada pak Sjachroedin yang sudah membesarkan saya di PDIP. Hubungan ini terjalin lebih dari sebatas urusan politik saja,”  ucap Hipni.

Sejak tidak menjabat anggota DPRD Lamsel, ia kembali melakoni  dunia usaha yang selama ini ditekuninya. Dari usaha tambak udang, hingga bisnis hasil bumi. Bahkan dari usaha itu, menghantar Hipni berangkat haji pada 2018.

“Rezeki Allah yang atur. Tidak mesti harus jadi anggota dewan, jika rezeki sudah ditentukan tak akan lari kemana,” imbuh Hipni.

Meski sempat gagal pada Pileg lalu melalui Golkar, Semangat Hipni tidak padam untuk membangun daerah. Atas desakan dan dukungan sejumlah elemen masyarakat, Hipni kembali memberanikan diri terjun ke politik. Tidak tanggung-tanggung, Hipni menjadi salah satu bakal calon bupati Lampung Selatan periode 2020-2025.

Digadang-gadang sebagai calon kuda hitam, Hipni mengaku, majunya di pilkada bukan karena terobsesi. Menurut dia, tekadnya maju ini merupakan panggilan jiwa  melihat kondisi daerah kelahirannya mengalami kemunduran yang signifikan.

“Terlepas kaitan dengan politik, mari kita lihat data. Kabupaten Lampung Selatan, dalam kurun 2016-2019 mana angka-angka menunjukkan perbaikan. Seperti sektor ekonomi, infrastruktur, pendidikan, kesehatan. Dari perenungan, dukungan, desakan, saya fikir mungkin ini saatnya saya harus maju, turut langsung menuju Lampung Selatan Bangkit,” ungkap Hipni.

(Bersambung)