Home Daerah Sodikin, Warga Waluyojati Berhasil Kembangkan Bawang Merah Melalui Umbi

Sodikin, Warga Waluyojati Berhasil Kembangkan Bawang Merah Melalui Umbi

26 views
0

PRINGSEWU,LAMPUNGRAYA.ID – Sodikin, warga RT 01 RW 02, Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu berhasil budidayakan bawang merah jenis bima brebes.

Berkat keuletan dan kegigihannya, Sodikin yang sebelumnya adalah petani cabai, kini sudah bisa menikmati buah dari jerih payahnya.

“Baru sekitar 1 tahun ini mas, saya budidaya bawang merah. Kalau lahannya kurang lebih ada sekitar 1 hektar dan sudah enam kali panen”, jelas Sodikin yang berencana kembangkan bawang merah di lahan miliknya yang ada di Pekon Ambarawa Barat, Kecamatan Ambarawa.

Sodikin juga mengaku sempat gagal saat pertama kali uji coba budidaya bawang merah diatas lahan seluas 3000 meter.

“Ada sekitar 3 kwiintal umbi bawang yang saya tanam, tapi sebagian banyak yang mati karena terserang jamur. Tapi alhamdulilah, waktu itu masih bisa panen dan kembali modal”, ungkap Sodikin.

Bibit bawang Sodikin langsung datangkan dari brebes yakni jenis Bima Brebes dan Bima Curup. “Kalau Bima Brebes, ukurannya sedikit lebih panjang dengan bentuk agak lonjong. Sementara, kalau Brebes Curup, ukurannya besar dan bulat”, terang Sodikin.

Proses pembuatan umbi bawang kata Sodikin dilakukan dengan cara menyayat 3/4 centimeter bagian dari ujung bawang untuk mempercepat penunasan.

Setelah itu, bawang merah yang sudah di potong di tanam pada lahan yang sudah di olah dan siapkan. “Proses dari tanam hingga siap panen, membutuhkan waktu sekitar 55-60 hari. Dari satu umbi, rata-rata menghasilkan 8 sampai 10 umbi”, papar Sodikin.

Dari lahan seluas 1 Ha dengan bibit sebanyak 1 ton lanjut Sodikin, bisa menghasilkan bawang merah sebanyak 12 ton per hektarnya.

“Kalau untuk pemasaran hasilnya, mulai dari lokalan di pringsewu dan juga bandar lampung. Tidak terlalu sulit, karna berapa saja mereka siap tampung dan beli” ucap Sodikin.

Proses pemupukan tanaman dilakukan saat usia tanaman bawang 10, 20 dan 30 hari. Sementara, saat musim kemarau, biasanya hama yang muncul adalah ulat dan saat musim penghujan muncul serangan jamur.

“Jadi harus lihat kondisi juga. Kalau pas kebetulan musim hujan, maka unsur N dalam pupuknya dikurangi. Tapi, kalau pas musim panas seperti sekarang, unsur N-nya ditingkatkan”, terang Sodikin.

Sementara sambung Sodikin, untuk penyemprotan fungisida dilakukan rutin 3 hari sekali guna mencegah busuk dan bawang moler.

“Penyemprotan fungisida ini dilakukan hingga menjelang panen. Untuk satu lubang 1 umbi, dengan jarak tanam 20 cm x 13 cm, dengan ukuran lebar bedengan 120 centimer”, ujar Sodikin. (Ful)