Home Daerah Taman Sabin, Modifikasi Objek Wisata Berbasis Pertanian

Taman Sabin, Modifikasi Objek Wisata Berbasis Pertanian

435 views
0
Salah satu spot berfoto yang ada di Taman Sabun dengan latar belakang pesawahan
GADINGREJO – Taman Sabin Pringsewu menjadi salah satu tempat tujuan wisata yang diburu wisatawan lokal maupun luar daerah, mengapa demikian?, karena Taman Sabin memiliki keunikan tersendiri sehingga membuat betah pengunjung untuk kembali datang.Taman Sabin yang artinya adalah Taman Sawah, merupakan salah satu wisata baru di Pringsewu. Objek wisata ini terletak di Pekon Wonodadi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu.

Owner Taman Sabin, Faturrahman mengatakan, di musim liburan sekolah pengunjung yang datang mencapai 500-an orang.

“Pengunjung cukup membayar tiket masuk, untuk dewasa sebesar lima ribu dan anak-anak sebesar dua ribu rupiah”, jelas Faturrahman yang bisa dipanggil Wawa ini, Sabtu (11/01/2020).

Dengan memanfaatkan lahan pesawahan seluas 2 hektar, Wawa kemudian melakukan penataan dan menyulap sawah tersebut jadi taman wisata berbasis hortikultura dan mina padi.

“Jadi, bukan pengalihan fungsi lahan, fungsinya tetap sawah,  tapi ini lebih terintegrasi dengan pertanian dan perikanan. Bisa dikatakan Taman Sabin adalah modifikasi seni bercocok tanam dengan inovasi”, terang Wawa.

Ada banyak spot untuk berfoto yang menarik dengan view indah, jika cuaca terang. Dimana, akan nampak hamparan persawahan membentang dipadukan dengan bunga-bunga yang cantik.

“Taman Sabin ini buka setiap hari, mulai dari pukul 07.00 hingga 18.00 WIB”, sebut Wawa.

Jika berkunjung ke Taman Sabin, setiap pengunjung bisa melihat dan mengamati tanaman hortikultura seperti padi, labu, cabai, sawi, pare, dan juga buah-buahan seperti melon dan semangka.

Ada juga tanaman refugia yang warna bunganya cukup menyolok mata, tumbuh berderet di beberapa kolam ikan sehingga menambah suasana keasrian pedesaan.

“Dulu kita cuma ngurus rumput, tapi di Taman Sabin kita bisa menanam bunga refugia. Fungsi dari refugia ini sebagai pengendalian hama tanaman padi”, terang Wawa.

Semenjak pengunjung ramai semenjak September lalu, kini Wawa bisa melibatkan 110 orang dalam pengelolaan Taman Sabin.

“Untuk jumlah pekerja sudah ada 50 orang. Ibu-ibu di luar yang berjualan kita gratiskan dan tidak di pungut uang sewa tempat. Kita juga sediakan tempat untuk menjual hasil buminya. Jadi totalnya ada 110 orang yang kita berdayakan disini,” urai Wawa.

Hal yang membedakan Taman Sabin dengan tempat wisata lain di Kabupaten Pringsewu adalah berangkat dari rasa senasib sepenanggungan.

Dimana, setiapkali musim panen dan harga murah, saat itu petani tidak menemukan solusi guna mendongkrak hasil bumi yang di panen.

“Disini kita tetap menjalankan kearifan lokal serta ada nilai edukasinya. Pengunjung yang datang bukan hanya menikmati persawahan, tapi juga bisa mengetahi aneka jenis tanaman bunga serta fungsi tanaman lainnya”, papar Wawa.

Rencananya, di Taman Sabin akan disiapkan sembilan (9) gerai yang mewakili produk unggulan dari masing-masing kecamatan di Kabupaten Pringsewu.

Kemudian akan ada perpustakaan dan juga tempat untuk menyulam dan belajar membatik. Dengan begitu, selain sebagai tempat wisata, Taman Sabin bisa menjadi wahana bagi setiap pengunjung untuk berekspresi dan beraktifitas. (Ful)