Beranda Daerah Umat Hindu di Margodadi Rayakan Piodalan Pure Bhakti Marga Yoga Ke XI

Umat Hindu di Margodadi Rayakan Piodalan Pure Bhakti Marga Yoga Ke XI

43 views
0
Umat Hindu di Pekon Margodadi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu saat me rayakan piodalan Pure Bhakti Marga Yoga ke-11

AMBARAWA – Umat hindu di Dusun Bulurejo, Pekon Margodadi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Pringsewu, gelar perayaan piodalan (ulang tahun) Pure Bhakti Marga Yoga ke-XI.

Acara Piodalan diawali dengan Pecaruan yang merupakan sebuah upacara, mengusir Butakala (roh jahat) yang mengganggu manusia.

“Inti dari perayaan piodalan ini adalah pembersihan alam sekala (nyata) dan niskala (yang tidak kelihatan dengan kasat mata). Ini memiliki tujuan supaya, sekala dan niskala tidak mengganggu manusia”, jelas Misino, Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Kecamatan Ambarawa kepada wartawan lampungraya.id., Kamis (15/08) di sela-sela persiapan acara Piodalan.

Menurut Misino, prosesi piodalan dipimpin oleh seorang Jeromangku Darmo Suwito.

“Dengan digelarnya Piodalan ini, mudah-mudahan manusia di muka bumi ini akan terhindar dari marabahaya. Usai sembahyangan, umat yang ada akan menikmati prasat”, ucap Misino.

Misino mengemukakan, Prasat merupakan makanan yang sudah dihaturkan kepada para dewata (leluhur). Dimana, Prasat ini berupa ambengan dan aneka buah-buahan.

“Pure Bhakti Marga Yoga ini, diresmikan tahun 2008 oleh Empu Pranata Yoga, dari Lampung Timur. Kalau untuk jumlah jamaat ada 87 jiwa dari 29 kepala keluarga (KK)”, urai Misino yang juga sebagai Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur VI Pekon Margodadi.

Di kalangan umat hindu, ada dua macam Pecaruan yakni Pecaruan Agung dan Pecaruan Alit.

Pelaksanaan Pecaruan Agung menggunakan upakara (sesaji) yakni lima ayam dari lima warna, atau bisa juga cukup dengan satu ayam brumbun (blorok).

Sementara, pecaruan alit, pelaksanaan upacara menggunakan segekhan.

Dalam ajaran agama hindu dikenal dengan Tri Hitakarana (tiga hubungan) yakni Palemahan (hubungan dengan lingkungan), Pawongan (hubungan sesama manusia) dan Parahiyangan (hubungan dengan sang pencipta). (Ful)