Hearing Bersama Komisi III, RSBB : 2026 Tambah 9 Unit Mesin Hemodialisa Tapi Kendala Kekurangan Nakes

KALIANDA – Direktur RSUD Bob Bazar (RSBB), dr Djohardi mengapresiasi atas dukungan DRPD Lampung Selatan dalam upaya RSBB meningkatkan kapasitas pelayanan terhadap pasien Hemodialisa (Cuci Darah). Disampaikan Djohardi, pada 2026 ini RSUD bakal mendapat penambahan 8-9 unit mesin cuci darah baru dari pihak ketiga melalui pola KSO (Kerja Sama Operasional) dan CSR dari pihak swasta.

Namun begitu, penambahan mesin tersebut tidak serta-merta langsung dapat meningkatkan kapasitas pelayanan. Dikatakan Djohardi, selain unit mesin cuci darah, kendala utamanya ada di SDM (Sumber Daya Manusia). Menurut aturannya, 3 mesin cuci darah wajib dipegang oleh 2 tenaga kesehatan (Perawat) yang telah bersertifikat.

“Selain unit mesin cuci darah dan ruang isolasi khusus, yang tidak kalah penting adalah tenaga kesehatan yang bersertifikat. Jadi kami mohon adakan dulu, pindahkan dulu tenaga kesehatan dari luar (RSUD). Kalau gedung, bangun mungkin cepat Pak, kalau gedungnya jadi, SDM-nya gak ada kita juga gak bisa beroperasi,” ujar Djohardi dalam hearing bersama Komisi III DPRD Lamsel, Rabu 21 Januari 2026.

Dijelaskan Djohardi, untuk pelatihan tenaga kesehatan (Nakes) hingga bersertifikat tersebut paling tidak membutuhkan waktu hingga 5 bulan, mencakup 3 bulan pelatihan teori dan 2 bulan pelatihan praktik.

“Rencananya tenaga kesehatan rekrutmen baru ini akan kami beri pelatihan pada April mendatang selama 5 bulan. Tapi kami butuh tenaga kesehatan ini dari luar (RSUD), karena kalau ambil dari internal RSUD, kami juga kekurangan tenaga kesehatan. Nakes itu bisa dari puskesmas ataupun dinas kesehatan,” imbuh Djohardi seraya menyatakan permintaan dukungan dari DPRD atas masalah kekurangan Nakes tersebut.

Lebih lanjut dijelaskan kondisi pelayanan Hemodialisa di RSUD Bob Bazar saat ini hanya memiliki 18 unit mesin pelayanan cuci darah dan 1 ruang isolasi dengan daftar antrian 120-130 pasien. Saat ini RSUD telah mengimplementasikan SIUDA (Sistem Single Use Hemodialisa) untuk memaksimalkan keamanan dan efisiensi pengobatan pasien ginjal kronik.

 

 

(*)

Respon (3)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *