LAMPUNG UTARA-Aksi demontrasi puluhan mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhamadiyah (IMM), di sekretariat DPRD Kabupaten Lampung Utara, Senin (29/6/2026), berlangsung ricuh.
Aksi menyikapi tiga belas isu nasional dan lokal yang di kemas dalam fakta integritas tersebut, sempat berlangsung panas.
Tiga belas isu dan tuntutan tersebut, yakni, menuntut penghentian kenaikan harga bahan pokok dan menjamin ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), menuntut pemerintah pusat perbaiki pelemahan nilai tukar rupiah, hentikan praktik militeristik di ruang sipil, mendesak pemerintah pusat mencabut undang undang Polri.
Selain itu, peserta aksi juga meminta menghentikan gelombang PHK massal, mendesak pemerintah menurunkan dan menstabilkan harga bahan pokok, memberantas pejabat In-kompetensi, evaluasi total terhadap kebijakan pemerintah yang bermasalah, mempercepat pengetasan kemiskinan, percepat penurunan angka anak putus sekolah, percepat perbaikan infrastruktur, turut serta aktif dalam program strategis nasional dan segera melaksanakan reformasi birokrasi dan reformasi digitas.
Dalam aksi demontrasi itu, sempat terjadi aksi dorong-mendorong antara mahasiswa dan aparat polres Lampung Utara.
Ketegangan tersebut terjadi disebabkan mahasiswa memaksa untuk bertemu langsung dengan perwakilan anggota DPRD dan memaksa masuk ke gedung DPRD setempat.
“Kami minta 45 anggota DPRD dapat menemui mahasiswa. Kami ingin masuk kedalam, kalian enak di dalam, kami di luar kepanasan,” ujar Alpansyah salah seorang mahasiswa aksi saat menyampaikan orasinya.
“Apa alasan kalian melarang kami untuk masuk dalam rumah kami sendiri,” sambungnya.
Kabag ops Polres Lampung Utara, Kompol Firmansyah mewakili Kapolres Lampura, AKBP Deddy Kurniawan, sebagai komando pengamanan massa aksi nampak sempat kewalahan menghalau massa aksi.
Aparat polres Lampung Utara dipaksa untuk menahan massa aksi yang terus memaksa untuk menerobos masuk kedalam gedung DPRD.
Kabag ops sempat menelepon Ketua DPRD Lampung Utara, M Yusrizal untuk berdialog bersama para mahasiswa melalui video call WhatsApp-nya.
Dalam percakapan tersebut, Ketua DPRD Lampung Utara, M Yusrizal menyampaikan permohonan maaf yang mendalam karena pada saat bersamaan anggota DPRD sedang melaksanakan agenda konsultasi KUA PPAS di berbagai daerah.
“Saya selaku Ketua DPRD menyampaikan permohonan maaf yang mendalam karena tidak bisa menerima langsung adik-adik mahasiswa karena sedang berada diluar daerah agenda KUA PPAS,” kata M Yusrizal melalui sambungan video call.
“Tapi saya sudah meminta salah satu anggota DPRD Lampung Utara yang masih berada di sekitar Lampung Utara untuk putar balik untuk menemui adik-adik semua. Sekali lagi atas nama DPRD saya menyampaikan permohonan maaf yang mendalam,” sambung M Yusrizal.
Suasana kembali memanas, lambannya perwakilan DPRD menyebabkan massa aksi terus merangsek menerobos pagar betis pengamanan anggota polres Lampung Utara.
Akibatnya, terjadi insiden saling dorong yang menyebabkan berapa mahasiswa terkena benturan dengan alat pengamanan anggota polisi.
Nampak berapa mahasiswa mengalami kelelahan dan kesakitan akibat insiden tersebut.
Kapolres Lampung Utara, AKBP Deddy Kurniawan terpaksa turun langsung mengambil alih komando pengamanan dengan membuka dialog kembali terhadap mahasiswa, sambil menunggu datangnya perwakilan anggota DPRD.
“Saya minta adik-adik bersabar, kita tunggu sebentar perwakilan DPRD sedang dalam perjalanan ke gedung DPRD,” pinta Kapolres.
Tidak berselang lama perwakilan anggota DPRD Lampung Utara hadir ditengah massa aksi. Anggota DPRD fraksi Gerindra William Mamora langsung berdialog dan menerima perwakilan massa aksi.
Massa aksi meminta penyampaian aspirasi disampaikan di dalam gedung DPRD.
Setelah seluruh mahasiswa dipersilakan masuk, suasana kembali kondusif.
“DPRD Lampung Utara menerima semua aspirasi yang disampaikan, aspirasi ini akan disampaikan kepada pimpinan DPRD dan pihak terkait. Terima kasih teman-teman sudah menyampaikan aspirasinya,” ucap William Mamora.
Massa aksi meminta dalam waktu 2×7 hari untuk mengakomodir tuntutan tersebut. Mereka sepakat untuk mengawal hingga persoalan berjalan tuntas.
Setelah berdialog dan menerima tuntutan aspirasi yang disampaikan mahasiswa. Aksi kemudian diakhiri, dan para mahasiswa kembali dengan damai.
Sebelumnya, aksi mahasiswa IMM juga berlangsung di halaman sekretariat Pemkab Lampung Utara. Disana perwakilan massa aksi diterima Wakil Bupati Lampung Utara, Romli. (*)












