Home Daerah Mbah Sri Ambarwati, Hidup Sebatangkara dan Dari Belaskasihan Orang

Mbah Sri Ambarwati, Hidup Sebatangkara dan Dari Belaskasihan Orang

125 views
0

PRINGSEWU – Ketidakmampuan ekonomi dan ketiadaan sumber pendapatan membuat Sri Ambarwati (70), perempuan paruh baya kelahiran Prembum, Jawa Tengah ini hanya bisa pasrah menjalani hidup.

Hari-hari dijalani Mbah Sri dengan beraktifitas di rumah, atau sesekali keluar berbaur dengan warga ikut pengajian kelompok ibu-ibu. “Tapi, sudah lama saya gak lagi ikut pengajian karena sakit. Ini kaki juga lagi sakit, udah dua minggu. Mau berobat ke dokter, tapi gak ada yang bisa dimintai tolong mengantar”, ungkap Mbah Sri saat wartawan Lampungraya.id., bersilaturahmi dan berbincang dengannya, Senin (05/10/20).

Tidak ada sanak saudara sebut Mbah Sri yang peduli kepadanya. Hanya seekor kucing kesayangan yang selama ini setia menemani janda Lansia yang sudah satu tahun ini tinggal menetap di Dusun Jatisari, RT 01, Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu.

“Saya berterimakasih kepada masyarakat yang sudah memberikan tempat dan membuatkan rumah seperti ini. Saya hanya bisa membalasnya dengan doa, semoga amal baik masyarakat ini dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT”, ucap Mbah Sri Ambarwati, dengan kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.

Mbah Sri Ambarwati berusaha menyeka air matanya serya menceritakan perjalanan hidupnya

Sembari sesekali menyeka air mata menahan gejolak di hati , Mbah Sri menuturkan kalau untuk makan sehari-hari mengandalkan dan berkat bantuan dari orang lain. “Syukur alhamdulilah, masih ada warga yang peduli. Kadang ada saja yang datang bawa beras atau makanan kesini”, ucap Mbah Sri seraya menunjukan sebatang singkong hasil pemberian dari seorang warga.

Tidak dimilikinya kamar mandi dan juga kakus membuatnya Mbah Sri  harus terus-terusan menumpang ke rumah tetangga untuk sekedar membersihkan diri. “Kalau pas kebetulan badan lagi gak kotor atau keringatan, paling dilap pakai kain basah. Selama ini saya sering merasa bingung dan melamun, kenapa hidup bisa seperih ini”, ujar Mbah Sri  kembali menyeka air matanya yang berlinang.

Bahkan Mbah Sri juga mengaku pernah tidak makan hingga tujuh (7) hari dan hanya meminum air putih untuk mengganjal perutnya yang kosong lantaran belum kenal dengan warga sekitar.

“Awalnya saya tinggal menumpang di rumah warga disini, kebetulan dia janda. Tapi, setelah dia nikah lagi, tapi saya bingung mau tinggal menumpang dimana. Akhirnya warga disini membuatkan tempat buat saya tinggal”, terang Mbah Sri yang sempat dua kali menikah.

Pada sekitar tahun 1966, Sri Ambarwati menikah dan tinggal di Kota Metro. Ia sempat dikarunia bayi laki-laki. “Tapi umurnya gak panjang. Pas umur lima bulan, anak saya meninggal”, ungkap Mbah Sri setengah mengingat-ingat pernikahannya yang pertama.

Tahun 1987 suaminya meninggal. Lantaran tidak ada sanak saudara di Metro, ia akhirnya pergi ke Kalianda dan tinggal menumpang di rumah kakaknya. Selama tinggal disana, akhirnya Sri dipersunting laki-laki dan kembali menikah untuk yang keduakalinya di tahun 1995. Diluar dugaan dan memasuki usia perkawinannya kedua tahun yakni 1997, suami keduanya pun dipanggil Yang Maha Kuasa.

Tepat pada Agustus 2019, Sri akhirnya memutuskan niat untuk pulang  ke Jatirenggo, Pekon Waluyojati dari Kalianda, Lampung Selatan dengan harapan bisa berkumpul dan tinggal bersama saudaranya.

“Saya enggak kerasan, terus coba tanya kesana kemari, kalau-kalau ada rumah kosong yang bisa ditempati. Dari Jatirenggo terus saya menuju kesini (Jatisari) hingga akhirnya tinggal menumpang di rumah warga. Tapi berkat rasa iba warga, saya akhirnya dibuatkan rumah geribik ini”, papar Mbah Sri.

Setelah menetap di Jatisari, beberapa warga yang merasa prihatin dengan kondisi kehidupan Mbah Sri mulai mengulurkan tangan. “Ada juga warga yang kasih wajiran (nasi berkat) kadang-kadang. Nasi itu saya jemur, terus saya rendam air buat dimasak lagi dan makan besoknya”, urai Mbah Sri yang selama ini menyimpan impian, adanya warga atau siapapun yang dengan niat tulus  membuatkan kamar mandi dan WC.

Meski hidup harus menyimpan perih mendalam dan tinggal sebatangkara tanpa pelukan hangat saudarnya, Mbah Sri mengaku selalu berdoa meminta diberi kesehatan dan rizki. “Setiap selesai sholat dan berdoa, hanya satu perminta saya kepada Allah. Semoga saya selalu diberi kesehatan dan dijauhkan dari penyakit”, ujar Mbah Sri. (Ful)